Finding a Place Called Home

“Home, is where your heart is.” – Paulo Coelho

Seorang perempuan berdiri berdesakan bersama para penjemput yang lain, sementara kertas bertuliskan sebuah nama dipegangnya erat dengan kedua tangan. Saya melihat ke sekitar, namun tidak menemukan nama yang familiar di situ. Tak ada papan bertuliskan “Selamat datang, Bapak Arif yang tampan.” maupun “Welcome to Balikpapan, Johnny Depp.” di situ. Entah saya yang tak jeli, atau mata saya yang masih belum terbiasa dengan remangnya malam setelah menempuh perjalanan udara selama dua jam dari Jakarta. Pandangan saya pun kembali kepada perempuan tersebut, membaca kata demi kata yang tertulis pada kertas yang dipegangnya.

“WELCOME HOME, MARJI

2013-05-08 19.36.47

:’)

Huft.

Kepergian saya ke Balikpapan kala itu, adalah merupakan rangkaian perjalanan saya mengunjungi Derawan, di mana saya memutuskan mengambil rute Jakarta – Balikpapan – Tarakan – Derawan – Tarakan – Balikpapan – Jakarta, dengan maksud mengunjungi pacar terlebih dahulu di Balikpapan, sebelum memboyongnya berlibur ke Derawan.

“Kamu mau makan di Kenari apa Dandito?” Tanya Hana setelah memasukkan kertas yang bertuliskan nama Johnny Depp tadi.

Sebelum berangkat, saya telah mencari sedikit informasi tentang Balikpapan. Dan saya pun mengetahui bahwa Balikpapan terkenal dengan masakan kepitingnya. “Umm, coba yang kamu belum pernah yuk.” Dan dua tempat yang paling terkenal adalah Kepiting Kenari dan Kepiting Dandito.

“Okay, berarti kita ke Kenari.” Serunya, sambil mengajak saya berjalan keluar bandara, menuju angkot yang mengarah ke kota. Di Balikpapan, tarif angkot jauh-dekat adalah 3.000 rupiah, dan serunya terkadang angkot bisa mengantarkan kita ke tempat yang seharusnya tidak dilalui rutenya. Jadi peraturan pertama ketika menggunakan angkot di Balikpapan adalah “Tanyakan dulu, apakah lewat ke tempat yang kita inginkan”.

“Kepiting Kenari, lewat Bang?” tanya Hana pada supir, bukan pada Johnny Depp.

Restoran Kepiting Kenari ini letaknya tak jauh dari bandara, dan hampir berseberangan dengan Restoran Kepiting Dandito. Namun jika dijelaskan dalam bentuk soal maka akan menjadi: Jika Bandara –> Dandito = 10 menit dan Bandara –> Kenari = 11 menit, maka siapakah nama pemilik Restoran Kepiting Kenari yang tutup pada malam itu?

Iya, malam itu Kepiting Kenari tutup, dan kami berjalan kaki menuju Dandito, sambil sesekali bergandengan tangan dan beradu pandangan.

Hangat.

2013-05-08 20.08.58

Kepiting saus spesial Dandito – IDR 150K

***

Pagi yang cerah menemani langkah kami ke Lapangan Merdeka Balikpapan, esoknya. Kata Hana, di sanalah tempat warga Balikpapan beraktivitas di hari libur. Mulai dari berjalan-jalan, liburan keluarga, jogging, bermain sepeda, hingga seperti yang kami lakukan. Berpacaran Mencari sarapan.

2013-05-09 07.31.56

Soto Banjarmasin Kuin – IDR 20K

Pilihan kami, jatuh kepada Soto Banjarmasin yang terletak di sudut lapangan. Merupakan perpaduan yang unik, sebab si penjual juga menyediakan es pisang ijo Makasar, selain seutas senyum manis di Balikpapan.

2013-05-09 07.45.26

Hae! :3

“Bu, itu Kuin artinya ratu bukan?” Tanya Hana ke si penjual. Read more »

Categories: Domestic, Culinary | Tags: , , , , , , , | 29 Comments

Samsung Galaxy S4: My Perfect Travel Companion

Sudah sebulan lebih sejak desas-desus kemunculan pertamanya di dunia, dan setelah menjelajah berbagai negara mulai dari Korea Selatan, Turki, India, Australia, hingga ke Afrika Selatan, kini Samsung Galaxy S4 telah hadir secara resmi di Indonesia. Dan saya, adalah termasuk orang yang beruntung karena dapat melakukan wawancara spiritual dengannya sebelum banyak orang melakukannya.

Simak penuturannya berikut ini.

samsung-galaxy-s-4-reveal-021

Samsung Galaxy S4

Halo, leh nal?

Hah? Maksudnya? Lu siapa?

Wah, pasti bukan anak gaul nih. Gue Arif, nama lu siapa?

Oh, kenalin. Gue Samsung Galaxy S4 dengan Exynos 5 Octa.

Nama lu keren bener bro, emang apaan sih artinya?

Gue itu henpon terbaru keluaran Samsung, yang dilengkapi dengan octa core. Ya kalau lu bingung, singkatnya gue punya dua prosesor quad core, masing-masing berkekuatan 1,6 Ghz dan 1,2 Ghz.

Oalah, lu henpon. Kirain handphone. Abisan sophisticated gitu namanya.

Lu punya prosesor keren gitu, emangnya mau dipakai apa?

Gue bisa multitasking, ngejalanin aplikasi-aplikasi berat yang bergrafis ciamik juga bisa karena gue dibekali PowerVR SGX 544MP3 untuk rendering 2D dan 3D yang menawan, dan yang paling penting bisa membantu kehidupan sehari-hari lu.

Oiya, emang lu bisa apa aja? Kehidupan sehari-hari gue itu sebagai seorang traveler loh. Bukan sekadar orang keren yang sudah punya pacar.

Traveler? Cocok! Gue punya beberapa fitur yang bisa lu pakai buat kebutuhan traveling lu. Dan yang pertama-tama, gue bakal jelasin tentang kamera gue dan beberapa fiturnya.

*menyimak*

Sebelumnya, selamat ya udah punya pacar.

WOY!

Mata digunakan untuk menangkap keindahan, dan memori digunakan untuk menyimpan keindahan tersebut. Di Galaxy S4, gue punya kamera berukuran 13 megapixels plus LED flash sebagai mata gue. Selain itu…

What? 13 megapixels? Itu jerawat Syahrini di dalam hidung pun bisa kelihatan jelas.

…sob, tunggu gue selesai ngomong dulu napa.

Ups, sorry. Oke lanjut.

Selain kamera tersebut, gue juga punya banyak fitur keren yang dibenamkan dalam kamera ini. Diantaranya adalah:

  1.  Panorama Shot, untuk mengambil gambar landscape memanjang, sejauh mata memandang. Hey it’s rhyme.
  2. Drama Shot, untuk mengambil gambar-gambar dari objek bergerak dalam beberapa detik, dan menyatukannya menjadi seperti slow motion pada satu frame.
  3. Dual Shot, untuk mengambil gambar dengan kamera depan dan belakang sekaligus. Misal ada pemandangan keren di depan lu sementara lu pengin ngambil muka lu juga. Aktifin aja Dual Shot.
  4. Sound & Shot, untuk mengambil suara yang terekam bersamaan dengan gambar yang diambil, selama maksimal 9 detik.
  5. Eraser Shot, untuk menghilangkan objek tak penting yang lalu lalang. Misalnya ketika foto di Borobudur, lalu tiba-tiba ada tukang bubur ayam melintas di depan lu, maka tukang bubur tersebut dapat dihilangkan dengan fitur ini.

Kasihan tukang buburnya :(

WOY! Gue becanda doang kali.

Okay, next. Untuk kamera depan, ada juga? Gue kan juga butuh Skype-an sama pacar kalau pas traveling.

Ya ada dong, namanya juga S4 – Sangat Sangat Super Sekali. Kamera depannya 2 megapixels yang bisa membuat komunikasi makin menyenangkan.

Kamera keren, kalau layarnya gak keren sama aja dong.

Eits, jangan salah. Layar gue ini Super AMOLED dengan 16 juta warna, dan yang bikin keren adalah bahannya yang dibuat khusus oleh Corning, yang terkenal dengan Gorilla Glass-nya. So pasti dijamin anti gores, dan aman dipakai waktu traveling.

Hoo…

Selain itu, teknologi air view-nya bisa membantu lu kalau pengin lihat-lihat foto, tapi males cuci tangan. Tinggal arahin tangan tanpa menyentuh layar ke arah album foto atau foto yang dituju, dan air view akan membuka album atau foto itu untuk lu. Bahasa kerennya sih, hovering.

Hmm, not bad. Lalu ada fitur lain yang bisa ngebantu gue waktu traveling? Read more »

Categories: Events, Survival Kit | Tags: , , | 25 Comments

Mengintip Adult Shop di Jepang

[RATING: NC 17 - NO ONE 17 AND UNDER ADMITTED]

Sebuah pesan singkat masuk melalui kolom Direct Messages Twitter ketika saya berada di Jepang, pesan singkat dari seorang oknum berinisial R yang isinya cukup menggugah jiwa laki-laki saya. Adapun bunyi pesan tersebut adalah: “Lagi di Jepang lu? Gue nitip bokep* dong.”

HANJIS.

***

Pornografi, bukanlah hal yang dianggap sangat tabu di Jepang. Di sana, sangat mudah mendapatkan barang-barang berbau pornografi seperti majalah, komik, hingga DVD. Cukup datang saja ke convenience store seperti Seven Eleven atau Lawson, dan kamu bisa mendapatkan hal-hal tersebut dengan mudah tanpa perlu menunjukkan KTP maupun kartu mahasiswa.

IMG-20121017-01571

Bisa didapatkan di Seven Eleven kesayangan kamu.

Siapa yang tak kenal dengan nama Miyabi, Sora Aoi, ataupun Leah Dizon? Saya. Nama-nama tersebut adalah nama yang cukup dikenal kalangan luas, sebagai pemain film porno Jepang atau yang biasa disebut dengan JAV, Japan Adult Video. Ada juga komik-komik Jepang seperti Peach, City Hunter, juga Golden Boy yang menampilkan beberapa adegan dewasa pada gambar-gambarnya. Belum lagi meluasnya video games dan anime Jepang yang berbau pornografi di Indonesia. Itu adalah sedikit contoh bagaimana industri pornografi Jepang telah menggurita ke berbagai wilayah. Dan lalu mengapa saya mengerti tentang nama-nama dan komik-komik itu? Hanya Tuhan dan hati nurani saya yang tahu.

***

“Ya udah, kalau lu mau beli bokep, sekalian aja.” timpal Osa santai “Kebetulan teman gue, si oknum S, nitip Tenga. Mumpung ke Jepang, katanya. Siapa tahu lebih murah.”

“Hah, Tenga? Apaan tuh?” Tanya saya, penuh rasa ingin tahu, dan ingin jodoh.

“Tenga itu … sigh …” Osa menghembuskan napas panjang, bukan untuk terakhir kalinya “…alat untuk masturbasi.”

WHAT? TERNYATA MASTURBASI PUN ADA ALATNYA, BUKAN SEKADAR TANGAN KOSONG BELAKA.

Saya pun mengangkat bahu, pasrah. “Err.. okay.”

DSCN8766

Adult Amusement Park – Akihabara

Langkah kaki laki-laki kami, menuntun ke salah satu toko gemerlap di sudut Akihabara. Sebuah toko yang bertuliskan Love Merci: Adult Amusement Park. Dengan pertimbangan kami adalah laki-laki dewasa yang penuh dengan cinta dan sedang butuh hiburan, kami pun memasuki taman tersebut dengan perasaan riang pria dewasa, bercampur deg-degan a la ABG yang baru pertama kali nonton bokep. Read more »

Categories: Foreign, Japan | Tags: , , , , , , | 39 Comments

Museum Nasional: Solusi Kencan Murah Meriah

“Di Lille ada tiga universitas negeri ya? Kamu yang mana?” Tanya saya malam itu melalui WhatsApp, mencoba lebih akrab dengannya.

“Tebak dong.”

Duh. Ini dia bagian yang susah, menebak rahasia wanita.

“Kalau tebakanku benar, kamu mau kan jalan sama aku pas balik ke Jakarta?” Saya memberikan penawaran, atau lebih tepat jika disebut dengan jebakan. Pada saat itu, satu-satunya clue  yang saya punya adalah bahwa dia sedang melanjutkan kuliahnya di bidang teknik.

“Umm, boleh.”

“Jawabannya Lille 1.”

“Ah curang, kok benar sih? Tuh kan aku kejebak lagi.”

“Hehehe, iya dong.” Jawab saya sambil tersenyum ke layar handphone. “Aku.”

“Emang kalau aku balik ke Jakarta, kamu mau ngajakin aku ke mana?”

Saya berpikir sejenak sebelum menjawabnya, “Umm, gak tahu. Mall?”

“Yah, mall lagi mall lagi. Bosen ah.”

“Lalu, kamu maunya ke mana?”

“Museum Nasional.”

“HAH?”

“Iya, Museum Nasional yang di seberangnya Monas, katanya habis direnovasi jadi keren sekarang.”

MUSEUM? Seumur-umur baru kali ini ada cewek yang mengajak saya ke museum, setelah beberapa teman wanita saya mengajak ke Laris Love Salon, ITC Ambassador, Plaza Senayan, hingga ke Pasar Tanah Abang Blok A. Dan karena museum belum ada di list tersebut, maka saya pun menerima ajakannya dengan hati riang, seriang Tasya yang melangkah sambil bernyanyi anak gembala.

Okay, let’s make it as our first date.”

Saya menutup layar Wikipedia pada browser di hadapan saya, akhirnya saya berhasil mengajaknya kencan, setelah berhasil menemukan petunjuk pada Wikipedia bahwa Lille 1 adalah universitas yang membawahi bidang teknik.

***

Menurut Wikipedia, cikal bakal Museum Nasional lahir tahun 24 April 1778, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. J.C.M. Radermacher, ketua perkumpulan, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya.

Di masa pemerintahan Inggris (1811-1816), Sir Thomas Stamford Raffles yang juga merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3. Gedung ini digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society (dahulu bernama “Societeit de Harmonie”.). Pada tahun 1862, setelah koleksi memenuhi museum di Jalan Majapahit, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung yang hingga kini masih ditempati. Gedung museum ini dibuka untuk umum pada tahun 1868.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelola menyerahkan museum tersebut kepada pemerintah Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 September 1962. Sejak itu pengelolaan museum dilakukan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sehubungan dengan dipindahnya Direktorat Jenderal Kebudayaan ke lingkungan kementerian tersebut.

***

“Aku perlu bawa kamera gak besok?” Tanya saya pada malam sebelum kencan.

“Gak usah, besok pakai Tugo aja foto-fotonya.” Jawabnya. Tugo sendiri, adalah nama yang dia berikan pada kamera miliknya, Olympus tipe Tough.

“Umm, okay.” Saya pun mengurungkan niat untuk membawa Peju, namun tetap memasukkan handphone ke dalam list barang yang harus dibawa besok. Waktu itu, saya memang baru saja menggunakan Samsung Galaxy Note 2, sebagai pengganti telepon genggam sebelumnya yang hilang. Dan karena dipersenjatai dengan kamera 8 megapixels yang katanya berkualitas bagus, saya pun jadi semangat ingin segera mencobanya. “Apa lagi?”

“Udah itu aja sih, sampai ketemu besok, Marji.”

Sementara Marji sendiri, adalah nama yang dia berikan pada saya. M-A-R, dari inisial nama saya dan, dari sekian banyak akhiran yang dapat disematkan kepada M-A-R — seperti -cell misalnya — entah mengapa dia memilih -ji. “Karena kamu mirip Narji.” Kelakarnya waktu itu.

Huft Bangedh.

***

“KLIK!” Setelah memastikan helm terpasang dengan benar padanya, kami pun segera berangkat menuju Museum Nasional. Dari hasil browsing kemarin, kami mengetahui bahwa museum buka setiap hari, kecuali hari Senin, dengan jam buka sebagai berikut: Selasa-Kamis: 08:30-14:30 WIBB, Jumat: 08:30-11:30 WIBB, Sabtu: 08:30-13:30 WIBB, dan Minggu: 08:30-14:30 WIBB, sedangkan dari hasil membaca kalender hijriah, kami mengetahui bahwa hari ini adalah hari Sabtu.

“Sabtu, berarti kencan.” Batin saya, yang mungkin akan dibalas dengan “Wekk, bodo amat dengan batin lu.” kalau dia adalah Romi Rafael, yang bisa mendengarkan batin seseorang.

“ADUH!” Pekik saya ketika terperosok ke dalam lubang kecil di dekat parkiran motor yang belum tertutup rapi.

“Makanya, kalau jalan jangan lihat handphone terus.” Jawabnya setelah reflek memegang tangan saya. “Hati-hati.”

“Hahaha, iya, ini kan…” Saya tak sempat meneruskan ucapan saya, ketika mata kami beradu, dan wajah saya memerah.

“Kamu…”

“…apa?”

“Kamu…”

“…apa?”

“Kamu grogi ya, Marji?”

“Enggak kok eng…EH LIHAT ADA GAJAH!”

2013-03-23 10.37.32

Tuh, ada gajah kan!

Read more »

Categories: Domestic | Tags: , , | 34 Comments

Peju: Sebuah Catatan Kehidupan (Part 2)

…Cerita ini adalah kelanjutan dari sini

Macau, Januari 2012

Dengan penuh gegap gempita, saya melangkahkan kaki bersama figuran 2, figuran 7, figuran 8, dan figuran 9 di sekitar Senado Square, tempat yang paling ramai dikunjungi turis — bukan penjudi — di Macau. Suhu udara yang mencapai belasan derajat celsius telah membuat saya mengkerut, maklum waktu itu adalah pertama kali saya bepergian ke luar negeri pada musim dingin. Demikian juga dengan Peju.

Tak mempedulikan hawa dingin yang menjalar di sekujur bulu, saya mengambil beberapa foto dengan menggunakan Peju di depan gereja St. Augustine. Klik!, Klik!, Klik!, mati.

Iya, Peju tiba-tiba tak bisa digunakan kembali. Terdengar suara dengkuran dari arah konektor baterainya, dan sepertinya dia sedang tertidur pulas. Saya mencoba mencabut baterai, berulang kali sampai lecet namun tak berhasil. Saya kesal, karena ternyata Tokocamzone tak berhasil memperbaiki Peju dengan baik, juga karena sebentar lagi kami akan menuju reruntuhan gereja St. Paul yang fenomenal, dan saya tak bisa berpose seperti ini di depan Peju.

IMG_1481

Saya di depan reruntuhan St. Paul church (gambar diambil dengan Canon G-11 milik figuran 2)

 

Mie, Oktober 2012

Dengan gaya traveling nomaden yang kami lakukan, yaitu lebih memilih menginap di bus malam ketika berpindah-pindah tiap kota, wajar jika masalah kelistrikan menjadi problem utama kami. Di Jepang, sangat susah mencari socket/colokan listrik yang available di tempat umum. Dari empat kali naik bus malam, hanya satu kali kami mendapatkan bus yang dilengkapi colokan listrik, lainnya tak ada yang bisa dicolok. Pernah juga kami meminta izin untuk menggunakan socket yang terpasang di tembok stasiun pada penjaga stasiun, namun ditolak. Beberapa rumah makan seperti McD dan KFC memiliki socket yang dapat digunakan secara cuma-cuma, cukup dengan membeli Shaker Fries. Yang paling parah adalah Yoshinoya di Osaka, ketika terang-terangan melarang kami menggunakan socket yang tersedia di sana, walaupun saya dan figuran 10 telah membeli semangkok Unagi Bowl yang sangat lezat seharga ¥640. Huft.

Lalu apa hubungan cerita antara socket dengan Peju? Dengan minimnya pasokan listrik, kami harus pintar menghemat dan membagi-bagi sumber daya yang kami punya seperti baterai kamera, baterai handphone, hingga mesin cuci. Imbasnya, kami pun bergantian dalam menggunakan kamera antara milik saya, figuran 10, atau figuran 11.

Overall, tak ada masalah berarti yang dihadapi saya bersama Peju selama di Jepang, karena saya pun teah menyiapkan baterai cadangan untuk Peju sebagai antisipasi apabila diperlukan. Bahkan Peju masih bisa mengambil gambar saya yang berpose manis di bawah ancaman pedang sang ninja manis di desa ninja, Prefektur Mie. Read more »

Categories: Miscellaneous, Others, Survival Kit | Tags: , , , , , , , , | 17 Comments

Apa Itu Jailolo?


Tulisan ini diikutkan dalam Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

Tak ada yang aneh dari linikala Twitter hari itu. Banyak tweet-tweet random melintas, dan beberapa tweet informatif yang muncul. Hingga akhirnya, saya menemukan sebuah retweet-an yang menggelitik rasa penasaran “RT @jailolofest: JAILOLO, I’M COMING! 2 pemenang akan terbang ke Jailolo untuk menyaksikan #FTJ2013 di Maluku Utara, GRATIS!”

GRATIS!

Hari gini siapa yang gak suka gratisan? Bahkan Aburizal Bakrie sekalipun tak akan menolak jika diberikan Lamborghini Gallardo LP550-2 secara gratis.

Terbang ke Maluku Utara

Saya belum pernah ke Maluku, dan terbang ke sana adalah ide yang bagus.

JAILOLO

Apakah itu Jailolo? Saya diam beberapa saat sebelum bertanya kepada beberapa kawan: “Apa itu Jailolo?”

Orang pertama mengatakan “Saya tidak tahu mengenai Jailolo.”

Orang kedua balik bertanya “Emang apaan Jailolo?”

Orang ketiga malah menjawab: “Jailolo? Yang istrinya Marc Anthony itu?”

Kecewa dan sakit hati dengan jawaban mereka, saya memutuskan mencari tahu tentang Jailolo di Google. Dan beberapa hasil pencarian yang muncul mengatakan:

  1. Jailolo is a volcanic complex on a peninsula (Jailolo Bay), west of Halmahera island.” Oh, di Jailolo ada gunung dan teluk.
  2. Jailolo is a town and former sultanate on Halmahera in Indonesia‘s Maluku Islands. It is located on the island’s west coast approximately 20 km north of Ternate.” Oh, di Jailolo ada kota dan bekas kesultanan yang terletak di Halmahera Kepulauan Maluku, sekitar 20 kilometer di utara Ternate.
  3. “Gilolo atau yang disebut Jailolo adalah nama pulau di Provinsi Maluku Utara. Jailolo atau Gilolo adalah nama lain yang diberikan penduduk setempat untuk Pulau Halmahera di Provinsi Maluku Utara. Di sini digelar Festival Teluk Jailolo yang merupakan festival tahunan dan didukung komunitas budaya, pemerintah daerah, dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.” Cukup jelas.

Cukup jelas dengan tulisan, saya berinisiatif mencari foto-foto Jailolo di internet, dan apa yang saya dapatkan di sana dan di sini sungguh membuat saya semakin berdecak kagum.

Read more »

Categories: Domestic | Tags: , , , | 19 Comments

Peju: Sebuah Catatan Kehidupan (Part 1)


Jakarta, Desember 2010

Dua orang pemuda tanggung (gantengnya, bukan ukurannya. -red) berjalan santai memasuki riuhnya ITC Fatmawati, mereka mencari sebuah toko kamera yang saat itu cukup terkenal secara on-line yang bernama Tokocamzone. Salah seorang pemuda itu, sebut saja saya (sementara pemuda lainnya, sebut saja figuran 1. -red) sedang mencari sebuah kamera yang bisa memuaskan hasrat duniawinya akan fotografi. Kriterianya jelas, yang bisa memotret di berbagai suasana, hasil fotonya bagus dan tajam, bodinya kuat dan ringkas, serta penampilannya keren.

“Ini saja, Mas.” Kata seorang pria berlogat Jawa medok penjaga Tokocamzone, kepada saya sambil mengeluarkan dua buah pilihan kamera dari etalase. “Kalau ndak Canon G12 ya Nikon P-7000.”

Apik sing endi, Mas?” Jawab saya, tak kalah medok-nya. “Bentuk dan bodinya hampir sama. Terus bedanya apa?”

“Yang satu Canon, satunya Nikon.” Ujar si penjaga yang disambut suara jangkrik di kolong etalase.

Krik krik.

“Aku serius, Mas.”

“Iya aku juga serius, Dik. Apa perlu aku kenalkan kepada kedua orang tuaku?”

Krik krik.

“Secara overall hampir sama fiturnya.” Pria penjaga toko tersebut menjelaskan yang sekaligus membuyarkan lamunan saya seketika.  “Cuma bedanya kalau Canon ada LCD yang bisa diputar-putar jadi lebih mudah kalau mau mengambil sudut foto, sementara Nikon lebih panjang zoom-nya jadi bisa lebih puas kalau nge-zoom cewek dari jauh.”

“Oke Mas, saya ambil yang Nikon!”

“…”

nikon-p7000-e1

Penampakan Nikon P-7000 (gambar diambil dari internet)

Dan itulah awal mula kehadiran Nikon P-7000, yang kemudian secara sophisticated saya namakan dengan “Peju” yang merupakan singkatan dari P-7000. Pengucapan Peju sendiri adalah “Pe” bukan seperti pada “petualangan” atau pada “perjalanan” melainkan seperti “Pe” pada “Jupe” atau pada “Julia Perez.”


Penang, Januari 2011

“Jadi mau bawa kamera siapa nih? Biar gak repot di sana nanti.” Tukas figuran 2 kepada saya, sehari sebelum kami bertolak ke Penang untuk berlibur. “Kameramu, atau kameraku?”

“Kameraku aja bro, ini ada manual mode-nya, banyak setting-nya, bisa panorama, dan bisa … nge-zoom cewek dari jauh.”

“…”

DSCN0830

Peju goes to Penang

Hari hampir gelap, ketika kami sampai di halaman Masjid Kapitan Keling. Saya memandang ke layar Peju, mengingat banyaknya peristiwa yang telah kami abadikan hari itu. Indikator baterai pun berkedip di layar, menandakan bahwa baterai sudah mau habis. Saya menekan tombol shutter setengah, mengunci fokus pada kubah masjid tersebut. Dan … KLIK!

Baterai habis, sehingga terpaksa Peju harus beristirahat di hari itu.

Penang, di awal tahun 2011 adalah saat pertama kali Peju bertualang ke luar negeri. Dan dari hasil pembicaraan saya dengan Peju, dia mengaku sangat deg-deg-an waktu pertama kali keluar Indonesia, maklum dia pergi bersama orang yang baru dikenalnya, dan saat itu dia pergi tanpa membawa paspor. Read more »

Categories: Miscellaneous, Others, Survival Kit | Tags: , , , , , , , , | 26 Comments

Bukan Cuma Komodo yang Ada di Flores

DSCN0044

Dermaga kayu di Loh Buaya

Selepas siang, kapal kami berangkat kembali dari Loh Buaya, meninggalkan ribuan komodo di Pulau Rinca yang tak tampak sedih dengan kepergian kami. Tak ada satupun komodo tersebut yang mengetahui bahwa ketika berada di Loh Buaya, saya bertemu dengan salah seorang legenda diving Indonesia yaitu Bapak Wally (Wilhelm) Siagian.

Dengan wajahnya yang selalu terkekeh, pria bertelanjang dada itu datang dengan rokok dan sebotol bir yang hampir habis di tangan kanannya.

“Itu Pak Wally.” Salah seorang anggota rombongan memberi tahu saya.

“Wally who? Yang nyanyi Cari Jodoh, Baik-baik Sayang, Dik?”

“Bukan Mas, Wally Siagian, beliau … diver legendaris Indonesia.”

“Oohh..”

*long silence*

“Konon, dia bisa menyelam sambil minum sebotol bir itu di dalam laut.”

“Bisa ngerokok juga di dalam laut?”

*longer silence*

DSCN0058

Salah satu legenda diving Indonesia

Dari hasil survey sana-sini berikutnya, saya mendapatkan fakta bahwa dari hasil penyelaman yang telah dilakukannya lebih dari 7.000 kali, Pak Wally telah menemukan empat spesies baru di lautan, yaitu tiga jenis ikan, dan satu kepiting mini berbulu yang berwarna ungu cantik yang dinamakan dengan namanya sendiri untuk menghormati penemuannya. Sebagai diver senior, Beliau telah berkeliling nusantara untuk  menjelajahi keindahan alam bawah lautnya. Dan salah satu favoritnya adalah Flores.

Pertanyaan pun berkecamuk di pikiran saya, “Ada apakah di Laut Flores?”

DSCN9994

Kiri, Bang!

Sejak sebelum mendarat di Labuan Bajo hari kemarin, saya telah melihat pemandangan menawan dari kaca jendela pesawat yang saya naiki. Gradasi lautan biru ke hijau toska tampak kontras dengan pulau-pulau khas wilayah Indonesia Timur yang kebanyakan kering dan tandus. Pemandangan tersebut membuat saya tak sabar ingin segera menceburkan diri ke lautnya. Sungguh, andai saya menggunakan Kopaja ke Flores, pasti saya tak akan segan untuk langsung berteriak “KIRI BANG!” ketika melihatnya. Read more »

Categories: Domestic | Tags: , , , | 20 Comments

Cinta dalam Sebuah Perjalanan


Sebagian orang melakukan perjalanan untuk mencari cinta, sebagian lainnya untuk melupakan cinta, sementara mereka yang beruntung menempuh perjalanan untuk menikmati cinta.


Singapura, 2010

Berbekal paspor yang masih perawan, — yang setelah perjalanan ini, menjadi tak perawan lagi karena perlakuan senonoh pihak imigrasi — saya memantapkan diri mengunjungi Singapura, tempat di mana seorang wanita yang saya cintai pergi dan kemudian melupakan cintanya saya kehilangan cintanya.

Perjalanan tersebut berlangsung menyenangkan sekaligus menyedihkan, menyenangkan karena saya mendapat pengalaman baru bepergian ke luar negeri, namun menyedihkan karena sejauh kaki melangkah saya masih tak dapat menemukan jejak di mana cinta saya ditinggalkan — dan ditanggalkan — olehnya di Singapura.

Mulai dari Serangoon Road, saya berjalan ke arah selatan, melewati Bugis Street yang ramai dengan pasarnya, berhenti sejenak untuk mengagumi Merlion Park yang merupakan landmark paling terkenal dari Singapura, sebelum melanjutkan perjalanan saya menuju Sentosa Island.

Sentosa Beach

Perjalanan mencari cinta.

Saya duduk terdiam selama beberapa saat pada sebuah pantai buatan di Pulau Sentosa, memikirkan ke mana perginya cinta itu. Saya memang tak menemukan cinta tersebut, namun saya mendapatkan sebuah cinta yang baru — yang menjadi alasan saya untuk terus bepergian — yaitu, saya jatuh cinta dengan keindahan alam ciptaan Tuhan yang dengan keanekaragaman budaya dan suku bangsanya, telah membuat saya menyadari bahwa dunia, bukan cuma sekadar Jakarta yang penuh sesak dan macet.

Karimunjawa, 2012

Saya menatap lembaran kertas di tangan, di mana beberapa kalimat telah tergores di sana. Mengingat hal-hal baik di masa lalu, sebagai upaya melupakan kenangan buruk yang pernah dialami. Deburan ombak pagi itu membawa saya berkeliling Kepulauan Karimunjawa, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, dan melupakan cinta yang telah lalu.

Karimun Jawa

Perjalanan melupakan cinta

Mulai dari snorkeling di Gosong Kemlaka dengan terumbunya yang beragam, menikmati ikan bakar di Pulau Tengah yang berpasir putih, — yang sayangnya hari itu ramai sekali, karena bertepatan dengan long weekend – hingga mencelupkan diri ke kolam hiu, berharap ikan-ikan buas tersebut akan mencaplok ingatan saya tentang cinta di masa lalu.

Dan semuanya berhasil, kenangan-kenangan kelam di masa silam tersebut akhirnya tertumpuk dengan keseruan-keseruan baru yang terjadi saat itu. Saya, secara resmi telah berhasil melupakan cinta.

Lombok, 2013

Read more »

Categories: Domestic, Foreign, Miscellaneous, Quotes, Singapore, Transportation | Tags: , , , , , , , | 10 Comments

Mau Tahu Seperti Apa Kereta Api di India?

Setelah mengetahui cara membeli tiket kereta api di India dari sini, apakah kalian juga penasaran tentang bagaimana rupa kereta api di India? Please, bilang penasaran please. 

Nah karena kalian semua penasaran, maka saya akan memberikan laporan tentang rupa kereta api di India.

[CATATAN: LAPORAN INI DIBUAT BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADI PENULIS, WALAUPUN BELUM MENJADI INTERNATIONAL BEST SELLER]

Here we go!

Setelah sukses mendapatkan tiket kereta api di India, maka yang harus kamu lakukan adalah:

(1) Pergi ke India

(2) Menuju stasiun yang dituju

(3) Naik kereta api

(4) Tut.. Tut.. Tut..

Sepertinya terlihat simple, tapi apakah praktiknya juga se-simple itu? Jawabannya bisa Ya dan Tidak. Ya, jika kamu sudah membaca artikel ini hingga usai. Dan Tidak, jika membaca saja sulit.

Print out tiket kereta api hasil pemesanan online, adalah tiket yang valid  untuk digunakan. Jangan percaya jika ada pihak yang mengatakan bahwa tiket yang telah dipesan tersebut tidak berlaku, dan harus ditukar dengan tiket asli. Peristiwa ini biasanya akan berujung scam dengan kamu digelandang ke sebuah tempat sepi, bertuliskan XXX Tour & Travel, diintimidasi, lalu diminta menggunakan jasa mereka untuk pergi ke suatu tempat.

[Tip: Cuekin saja kalau ada orang yang berkata bahwa tiket tersebut tidak valid, anggap omongannya adalah janji manis penjaja MLM.]

Namun, apakah cukup dengan print out itu saja bisa bebas naik ke kereta? Tentu tidak.

DSCN1630

Carilah nama kamu di sini!

Tiket hasil pemesanan online tersebut tidak mencantumkan nama gerbong dan nomor kursi, maka kamu harus mencari di mana letak tempat duduk/tidur kamu pada daftar yang ditempel di papan pengumuman. Perhatikan gambar di atas. Di sana ada seorang warga India yang tertidur pulas di bawah papan pengumuman. Setelah mendapatkan kepastian, segera naik ke gerbong seperti yang ditunjukkan dalam daftar tersebut.

[Tip: Daftar tersebut biasanya disusun urut berdasarkan kelas kereta yang dipesan, nah, selamat mencari!]

Selama di India, saya berkesempatan menggunakan kereta api antar kota dengan mencoba beberapa kelas yang ada, yaitu (Economy) Sleeper Class, AC 3 Tier, dan AC 2 Tier — sisanya, yaitu 2nd class seater dan 1st Class saya tidak sempat menggunakannya — dan pada laporan ini saya akan mengulas tentang tiga kelas kereta yang pernah saya tiduri.

[Catatan: Dalam satu rangkaian kereta di India biasanya terdiri dari atas beberapa kelas gerbong]

A. (Economy) Sleeper Class

Harga*: 200 Rupee

Deskripsi Umum: Kelas kereta ini adalah yang paling banyak diminati oleh para penduduk India juga para traveler yang bepergian dengan kocek terbatas. Melihat harganya yang murah, maka fasilitas yang disediakan di sini pun tak banyak. Dalam satu kompartemen terbagi atas 3 berth/tempat tidur yang saling berhadap-hadapan, tanpa tirai. Sebagai pendingin ruangan, kelas ini menggunakan kipas angin berdebu yang terpasang pada langit-langitnya. Ruangan kereta ini relatif kotor dan bau. Di kelas ini, banyak ditemukan penjual yang lalu lalang, mirip dengan kereta ekonomi/bisnis di Indonesia!

Tipe Penumpang yang Ditemui:

Orang-orang yang dijumpai di sini, biasanya adalah orang India golongan menengah ke bawah, dan bukan merupakan pekerja kantoran. Ketika saya berada di sini, mereka memperhatikan saya dari ujung kupluk sampai ujung sepatu dengan pandangan yang tajam. Hanya sedikit pengguna kereta ini yang bisa berbahasa Inggris, dan jika kamu tak bisa berbahasa India, maka kamu akan mendengar mereka seolah-olah sedang ngomongin kamu, atau sedang ngomong jorok.

Sleeper Class (1)

Perhatikan bagian atas gambar (Model: Rozy) Lalu di manakah saya berada?

Sleeper Class (2)

Yak, saya terjebak di sudut, di belakang kaki penumpang lain yang terjulur manja.

Merk Hand Phone yang Digunakan Penumpang**: Nokia dan Kaboom! Read more »

Categories: India, Transportation | Tags: , , , , | 51 Comments

Blog at WordPress.com. Theme: Adventure Journal by Contexture International.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 184 other followers